Day: September 5, 2016

Hadapi Modernisasi, Anak Muda Harus Paham Budaya Hubula

Melianus Wantik (kanan) saat membawakan materi tentang budaya Hubula – JUBI/Agus Pabika
Melianus Wantik (kanan) saat membawakan materi tentang budaya Hubula – JUBI/Agus Pabika

Jayapura, Jubi – Melianus Wantik, senior Ikatan Keluarga Besar Distrik Kurulu, Libarek, Pisugi, Wita-waya, Wosilimo dan Wadangku (IKBD-KLPW3) merasa prihatin atas kearifan lokal yang sudah dan sedang terkikis akibat tuntutan globalisasi.

Hal itu disorotinya dalam materi acara seminar dalam rangka penerimaan anggota baru IKBD-KLPW3 Jayapura Tahun 2016 Kamis lalu (1/9), yang bertema Menelusuri Budaya Huwula dalam Perkembangan Modernisasi.

Melianus secara khusus menyoroti upaya generasi muda Hubula untuk memelihara nilai-nilai baik dalam kearifan budaya lokal. “Budaya itu adalah warisan leluhur sebagai daya dukung kehidupan manusia dan alam,” ujarnya.

Melianus juga menjelaskan tentang struktur pemerintahan adat, tatanan adat, kondisi orang Balim, pimpinan masa lalu yang saling menghargai dalam hubungan sosial masyarakat Hubula.

“Aturan-aturan adat itu masih ada dalam praktek kehidupan masyarakat Hubula namun telah terpengaruh dan terkikis oleh perkembangan teknologi yang semakin maju,” kata dia.

Hal tersebut menurutnya tampak dari berkurangnya ikatan masyarakat pada aturan-aturan adat, hubungan timbal balik manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan sang pencipta. “Padahal sudah diatur dalam aturan adat beserta saksi-sanksinya sampai kepada penyelesaian berbagai permasalahan,” ujarnya.

Sementara pemateri lainnya terkait keorganisasian, Frater Lukas Walilo, berpesan agar peserta memahami pentingnya wadah organisasi sebagai tempat belajar.

Seminar yang berlangsung di asrama Taburia, Padang Bulan, itu dihadiri sekitar 50 peserta.(*)

Gubernur Minta Dukungan Semua Pihak Dalam Pelaksanaan ICBE

Gubernur Papua Lukas Enembe Saat Berbincang Dengan Beberapa Staf – Jubi/Alex
Gubernur Papua Lukas Enembe Saat Berbincang Dengan Beberapa Staf – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Lukas Enembe meminta dukungan semua pihak dalam pelaksanaan Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati/Bio Diversity Ekowisata dan Ekonomi Kreatif (ICBE) 2016, yang akan berlangsung pada Rabu (7/9/2016), di Jayapura.

“Minggu ini ICBE 2016 sudah digelar, kami mohon dukungan dari semua pihak,” kata Enembe, di Jayapura, Senin (5/9/2016).

Menurut Gubernur, ICBE 2016 akan dihadiri beberapa tamu dari negara tetangga, sehingga semua pihak harus turut berprestasi, mengingat event ini berskala internasional.

“Saya harap saudara saudara untuk menyesuaikan diri dan ambil bagian di ICBE nanti,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan, ujar Enembe, tidak hanya menyukseskan penyelenggaraan konferensi saja, tetapi mampu menjaga ketertiban dan keamanan selama berlangsungnya konferensi di Jayapura.

“Kita sudah diberikan kesempatan untuk menggelar konferensi bertaraf internasional ini, sehingga saya harapkan semua pihak untuk bersama-sama menyukseskan perhelatan ini,” kata Enembe.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Papua mengaku siap mengamankan jalannya ICBE 2016, yang akan berlangsung pada 7-10 September di Jayapura.

Kepala Satpol PP Provinsi Papua Alex Korwa, di Jayapura, Selasa (30/8/2016), mengatakan pihaknya akan melarang peredaran dan penjualan minuman beralkohol (miras) selama konferensi itu berlangsung.

“Disperindag akan keluarkan surat edaran kepada seluruh pengusaha miras, dengan batas waktu 5-12 September tidak boleh ada penjualan. Akan ada sanksi tegas bagi yang tidak mengindahkan larangan itu. Kami akan razia, jika kedapatan izin usaha akan dicabut,” katanya.

Konferensi akan digelar di tiga tempat, yakni Sasana Krida Kantor Gubernur, Gedung Olahraga Cenderawasih dan Kantor Dinas Otonom Kotaraja.

“Saya kebetulan ditunjuk sebagai koordinator. Untuk itu, saya sudah ambil langkah langkah dari sisi pengamanan kita,” ujarnya. (*)

Kebun Sawit Korindo Hancurkan Rumah Kanguru Pohon Di Merauke

Jayapura, Jubi – Perusahaan sawit terbesar di Provinsi Papua, Indonesia secara sistematis melakukan penebangan dan pembakaran hutan yang merupakan rumah bagi kanguru pohon, burung cendrawasih dan kasuari.

Menggunakan citra satelit, drone dan survey tanah survei kolaborasi beberapa LSM menemukan penggundulan 11.700 hektar hutan hujan dalam tiga tahun terakhir di konsesi kelapa sawit yang dioperasikan oleh perusahaan Korea Korindo di provinsi Papua dan Maluku Utara.

Bustar Maitar, yang bekerja untuk LSM Papua for Mighty dan terlibat dalam kolaborasi ini mengungkapkan kehancuran yang terjadi “benar-benar mengejutkan dan sangat menyedihkan”.

“Kami hanya melihat tanah. Tidak ada kayu di sana. Tidak ada pohon-pohon hijau. Tidak ada burung cendrawasih. Tidak ada kanguru pohon. Tidak ada kehidupan setelah mereka membersihkan hutan, “kata Maitar, Kamis (1/8/2016) di Jakarta.

Papua memiliki 50% dari keanekaragaman hayati Indonesia. Banyak hewan yang tidak ada di lain tempat di muka bumi ini hidup di hutan Papua.

Maitar juga mengatakan puing-puing yang tersisa di konsesi loging tahun ini telah ditumpuk, siap untuk dibakar. Beberapa LSM lingkungan melaporkan 1.296 titik api muncul dalam konsesi minyak, penebangan dan pertambangan Indonesia sepanjang Agustus lalu.

Sampai bulan Agustus, minyak sawit dari Korindo dibeli oleh beberapa pedagang minyak sawit terbesar di dunia – Wilmar, Musim Mas, ADM, dan IOI. Mereka menyediakan minyak sawit untuk konsumen di Eropa, Amerika Utara, Cina dan India, menurut laporan yang dirilis oleh Papua for Mighty.

“Karena kurangnya kemajuan dari pemasok, dan tuduhan serius, Wilmar telah menghentikan pengadaan minyak sawit dari Korindo dengan efek dari Juni 2016,” kata juru bicara Wilmar.

Musim Mas juga telah berhenti membeli dari Korindo tetapi mengatakan akan melanjutkan komunikasi dengan perusahaan tersebut.

“Kami percaya transformasi yang hanya dapat dicapai melalui keterlibatan positif dan hasilnya berdampak nyata di lapangan,” ujar juru bicara perusahaan asal Singapura ini. (*)

Freeport Dicurigai Menambang Emas Di Bawah TN Lorentz

Jayapura, Jubi – Pemerintah Provinsi Papua mencurigai adanya kegiatan penambangan emas bawah tanah di Taman Nasional Lorentz oleh PT Freeport Indonesia.

Sekretaris Daerah Provinsi Papua Hery Dosinaen di Jayapura, Rabu (31/8/2016), mengatakan, pasalnya bisa saja ada penambangan di bawah tanah di kawasan Ilaga, Jila, Hoya, Ermakawiya, dan Bela karena bagian atasnya merupakan Taman Lorentz dan mungkin saja sudah ada terowongan yang tembus sehingga negara harus melihat hal itu.

“Jika tidak, pertambangan akan menggerogoti terus alam Papua dari bawah tanah, meski hutan di atasnya dilindungi,” katanya.

Dia mengemukakan tentang keadaan politik ekonomi internasional sekarang ini, di mana pemerintah daerah di Papua secara tak langsung mendapat tekanan dari negara donor, dalam konteks menjaga kelestarian Taman Lorentz.

“Sehingga pada akhirnya, sekitar 10 kabupaten yang berada di taman nasional tersebut, tak dapat melaksanakan pembangunan secara maksimal,” ujarnya.

Sebagai salah satu contoh, katanya, Kabupaten Asmat merupakan wilayah yang berada di atas air dan tak bisa membangun ibu kota kabupatennya karena dikelilingi Taman Nasional Lorentz.

“Ini harus kami sampaikan sehingga diharapkan ada regulasi yang bisa memayungi supaya pemerintah daerah kabupaten yang berada di wilayah Taman Lorentz dapat melaksanakan pembangunan dengan baik tanpa berbenturan dengan proses hukum,” katanya.

Dia mengatakan sejak 1980, pembangunan jalan Trans Irian Jaya dari Sorong ke Merauke yang dikerjakan Kementerian PU, banyak melewati taman nasional tersebut sehingga menjadi kendala dalam proses pembangunan. (*)