Blog

250 Jenis Burung Ditemukan di Raja Ampat

Sorong, Jubi – Terdapat lebih dari 250 jenis burung ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.

Fauna and Flora International (FFI) mencatat bahwa di Pulau Waigeo terdapat 173 spesies burung; 11 diantaranya adalah burung endemik Pulau Papua, seperti cenderawasih merah dan cenderawasih kecil yang sangat menarik yakni cendrawasih botak.

Enam dari sepuluh jenis burung yang hanya ditemukan di tanah Papua merupakan endemik Kepulauan Raja Ampat yang hanya bisa ditemukan di Pulau Waigeo, Misool, Kofiau, Batanta dan Pulau Salawati.

Fauna and Flora International (FFI) mencatat bahwa di Pulau Waigeo terdapat 173 spesies burung; 11 diantaranya adalah burung endemik Pulau Papua, seperti cenderawasih merah dan cenderawasih kecil yang sangat menarik yakni cendrawasih botak.

Selain itu ada burung Maleo Waigeo (Aeypipodius bruijni), yang merupakan burung endemik yang hanya terdapat di Pulau Waigeo.

Sementara Michael K. Tarburton dalam “The Avifauna of Misool” mencatat terdapat 141 jenis burung di pulau Misool dan mempunyai potensi untuk wisata burung yang luar biasa. Temuan Michael didukung hasil pengamatan sebuah tim yang terdiri dari The Nature Conservancy (TNC), Papua Bird Club pada Mei 2015. Hal yang sama dilakukan Dr. Richard Noske – seorang ahli burung dari Australia dan presiden organisasi Birds Queensland, melakukan pengamatan burung di Pulau Misool dan Pulau Kofiau.

Dalam pengamatan di Kampung Kapatcol, Distrik Misool Selatan, tim melihat 5 jenis burung cenderawasih yaitu: lesser birds of paradise (Paradisea minor), king birds of paradise (cicinnurus regius), magnificent bird-ofparadise (cicinnurus magnificus), glossy mantled manucode (manucodia ater) dan crinkle – collared manucode (manucodia chalybatus) dan untuk melihatnya relatif mudah, serta tempatnya juga cukup terjangkau yaitu di hutan bakau dan hutan di atas dataran rendah.

Sedangkan dalam pengamatan di Pulau Kofiau, ditemukan sekitar 50 jenis burung. Pulau ini memiliki daya tarik bagi para peneliti dan pengamat burung karena memiliki dua spesies burung endemik yaitu kofiau paradise king fisher atau biasa disebut dengan Burung Raja Udang (nama Lokal: Mampitosoi) dan Kofiau Monarch, biasa disebut Kehicap Kofiau (nama lokal: Baikolei Hutan).

FFI dalam pres rilis yang diterima Jubi di Sorong, Papua Barat, Jumat (9/9/2016) menyebutkan tanggal 23 Agustus 2016 di kantor bupati Raja Ampat, Waisai, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Pariwisata, The Nature Conservancy (TNC), Fauna and Flora International (FFI), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dan Papua Bird Club telah menggelar kegiatan Ekspos Ragam Hayati dan Pesona Burung di Kabupaten Raja Ampat.

Ekspos ini berupaya menyebarkan informasi ragam hayati dan pesona burung yang ada di Raja Ampat. Juga ajang berbagi tentang pengelolaan wisata burung. Sehingga terbuka potensi, peluang, strategi pengembangannya untuk mengatasi tantangan.

“Raja Ampat juga menyimpan potensi kekayaan daratan yang luar biasa. Bermacam jenis burung bisa ditemukan di sini. Jika hal ini bisa dikembangkan dan dikelola baik dan berkelanjutan, tentu akan mendatangkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” kata Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati.

Menurutnya Pemkab Raja Ampat akan mendukung upaya pengembangannya melalui kegiatan ekowisata berbasis masyarakat yang mengedepankan prinsip-prinsip konservasi untuk melestarikan ekosistem alam.

Hal itu ditindaklanjuti dengan pembentukan Forum Pemerhati Wisata Darat Raja Ampat yang terdiri dari lintas elemen masyarakat, organisasi dan para pemangku kepentingan terkait.

Pembentukan forum ini dilakukan untuk mendorong dan memajukan pengelolaan wisata darat di Kabupaten Raja Ampat agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan. (*)

Gubernur Larang Warga Jual Cenderawasih Asli

bintangpapua – Papua  untuk melindungi dan menjaga hewan endemik Papua, Burung Cenderawasih. Larangan ini menyusul, mulai punahnya sejumlah hewan tersebut.

“Warga dilarang  menjual atau memakaikan kepada tamu-tamu penting  atau siapapun harus   imitasi. Bahkan seluruh hewan endemik Papua  kalau bisa diimitasi,” tegas  Gubernur  Papua  Lukas Enembe, SIP, MH, usai  meninjau   Pameran Keanekaragaman Hayati dan Gerbang Mas di GOR Cenderawasih, Kota Jayapura, Kamis (8/9).

Gubernur mengatakan, jika warga terus didorong untuk menciptakan   cenderawasih imitasi, maka akan menimbulkan juga ekonomi kreatif  masyarakat sekaligus meningkatkan pendapat masyarakat, terutama untuk menyambut pelaksanaan PON XX  tahun 2020 di Papua.

“Tamu undangan yang hadir pada PON XX nanti pasti  butuh cinderamata khas Papua, ya kita mesti siapkan, tapi cinderamata imitasi,” terang Gubernur.

Karenanya, ujar Gubernur,  Pemprov   sedang menyiapkan  Pergub tentang  penjagaan dan perlindungan hewan  endemik Papua.

“Jika  Pergubnya   sudah ada, maka akan ditindaklanjuti dengan Perdasus tentang  penjagaan dan perlindungan hewan  endemik Papua,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Yan Yap L. Ormuseray, SH mengutarakan, Perdasus Hewan  Endemik Papua tengah dibahas  Badan Legislasi DPRP. (mdc/don)

MRP Temukan Satu Nama Bukan OAP

Hasil Pertimbangan 14 Kursi Otsus

JAYAPURA-bintangpapua– Majelis Rakyat Papua( MRP) telah menyelesaikan seluruh rangkaian tugasnya dalam member pertimbangan kepada 42 nama anggota DPRP Pengangkatan 14 Kursi pada Rabu( 7/9/ 2016) dalam Rapat Pleno Pemberian Pertimbangan yang digelar selama dua hari sejak Selasa(6/9).

Setelah memberi pertimbangan kepada k 42 nama anggota DPRP Kursi Otsus tersebut, selanjutnya MRP menyerahkan berkas pertimbangan itu kepada Pansel Provinsi.

Ketua MRP Papua Timotius Murib, Kamis( 8/9/2016) mengatakan, setelah meneliti berkas dari daftar ke 42 nama anggota DPRP Kursi Otsus tersebut, MRP menemukan ada satu nama anggota 14 Kursi yang bukan OAP.

Dari temuan itu MRP telah memberikan pertimbangannya dan selengkapannya diserahkan ke Pansel melalui Seklis MRP Wasuok Siep. Ketika ditanya dari wilayah adat mana ditemukan nama yang bukan Orang Asli Papua, Timotius Murib mengatakan, MRP tidak bisa mempublis nama itu, semua pertimbangan sudah dilakukan dan hasilnya sudah diserahkan. (Ven/don)

Hadapi Modernisasi, Anak Muda Harus Paham Budaya Hubula

Melianus Wantik (kanan) saat membawakan materi tentang budaya Hubula – JUBI/Agus Pabika
Melianus Wantik (kanan) saat membawakan materi tentang budaya Hubula – JUBI/Agus Pabika

Jayapura, Jubi – Melianus Wantik, senior Ikatan Keluarga Besar Distrik Kurulu, Libarek, Pisugi, Wita-waya, Wosilimo dan Wadangku (IKBD-KLPW3) merasa prihatin atas kearifan lokal yang sudah dan sedang terkikis akibat tuntutan globalisasi.

Hal itu disorotinya dalam materi acara seminar dalam rangka penerimaan anggota baru IKBD-KLPW3 Jayapura Tahun 2016 Kamis lalu (1/9), yang bertema Menelusuri Budaya Huwula dalam Perkembangan Modernisasi.

Melianus secara khusus menyoroti upaya generasi muda Hubula untuk memelihara nilai-nilai baik dalam kearifan budaya lokal. “Budaya itu adalah warisan leluhur sebagai daya dukung kehidupan manusia dan alam,” ujarnya.

Melianus juga menjelaskan tentang struktur pemerintahan adat, tatanan adat, kondisi orang Balim, pimpinan masa lalu yang saling menghargai dalam hubungan sosial masyarakat Hubula.

“Aturan-aturan adat itu masih ada dalam praktek kehidupan masyarakat Hubula namun telah terpengaruh dan terkikis oleh perkembangan teknologi yang semakin maju,” kata dia.

Hal tersebut menurutnya tampak dari berkurangnya ikatan masyarakat pada aturan-aturan adat, hubungan timbal balik manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan sang pencipta. “Padahal sudah diatur dalam aturan adat beserta saksi-sanksinya sampai kepada penyelesaian berbagai permasalahan,” ujarnya.

Sementara pemateri lainnya terkait keorganisasian, Frater Lukas Walilo, berpesan agar peserta memahami pentingnya wadah organisasi sebagai tempat belajar.

Seminar yang berlangsung di asrama Taburia, Padang Bulan, itu dihadiri sekitar 50 peserta.(*)

Gubernur Minta Dukungan Semua Pihak Dalam Pelaksanaan ICBE

Gubernur Papua Lukas Enembe Saat Berbincang Dengan Beberapa Staf – Jubi/Alex
Gubernur Papua Lukas Enembe Saat Berbincang Dengan Beberapa Staf – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Lukas Enembe meminta dukungan semua pihak dalam pelaksanaan Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati/Bio Diversity Ekowisata dan Ekonomi Kreatif (ICBE) 2016, yang akan berlangsung pada Rabu (7/9/2016), di Jayapura.

“Minggu ini ICBE 2016 sudah digelar, kami mohon dukungan dari semua pihak,” kata Enembe, di Jayapura, Senin (5/9/2016).

Menurut Gubernur, ICBE 2016 akan dihadiri beberapa tamu dari negara tetangga, sehingga semua pihak harus turut berprestasi, mengingat event ini berskala internasional.

“Saya harap saudara saudara untuk menyesuaikan diri dan ambil bagian di ICBE nanti,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan, ujar Enembe, tidak hanya menyukseskan penyelenggaraan konferensi saja, tetapi mampu menjaga ketertiban dan keamanan selama berlangsungnya konferensi di Jayapura.

“Kita sudah diberikan kesempatan untuk menggelar konferensi bertaraf internasional ini, sehingga saya harapkan semua pihak untuk bersama-sama menyukseskan perhelatan ini,” kata Enembe.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Papua mengaku siap mengamankan jalannya ICBE 2016, yang akan berlangsung pada 7-10 September di Jayapura.

Kepala Satpol PP Provinsi Papua Alex Korwa, di Jayapura, Selasa (30/8/2016), mengatakan pihaknya akan melarang peredaran dan penjualan minuman beralkohol (miras) selama konferensi itu berlangsung.

“Disperindag akan keluarkan surat edaran kepada seluruh pengusaha miras, dengan batas waktu 5-12 September tidak boleh ada penjualan. Akan ada sanksi tegas bagi yang tidak mengindahkan larangan itu. Kami akan razia, jika kedapatan izin usaha akan dicabut,” katanya.

Konferensi akan digelar di tiga tempat, yakni Sasana Krida Kantor Gubernur, Gedung Olahraga Cenderawasih dan Kantor Dinas Otonom Kotaraja.

“Saya kebetulan ditunjuk sebagai koordinator. Untuk itu, saya sudah ambil langkah langkah dari sisi pengamanan kita,” ujarnya. (*)

Kebun Sawit Korindo Hancurkan Rumah Kanguru Pohon Di Merauke

Jayapura, Jubi – Perusahaan sawit terbesar di Provinsi Papua, Indonesia secara sistematis melakukan penebangan dan pembakaran hutan yang merupakan rumah bagi kanguru pohon, burung cendrawasih dan kasuari.

Menggunakan citra satelit, drone dan survey tanah survei kolaborasi beberapa LSM menemukan penggundulan 11.700 hektar hutan hujan dalam tiga tahun terakhir di konsesi kelapa sawit yang dioperasikan oleh perusahaan Korea Korindo di provinsi Papua dan Maluku Utara.

Bustar Maitar, yang bekerja untuk LSM Papua for Mighty dan terlibat dalam kolaborasi ini mengungkapkan kehancuran yang terjadi “benar-benar mengejutkan dan sangat menyedihkan”.

“Kami hanya melihat tanah. Tidak ada kayu di sana. Tidak ada pohon-pohon hijau. Tidak ada burung cendrawasih. Tidak ada kanguru pohon. Tidak ada kehidupan setelah mereka membersihkan hutan, “kata Maitar, Kamis (1/8/2016) di Jakarta.

Papua memiliki 50% dari keanekaragaman hayati Indonesia. Banyak hewan yang tidak ada di lain tempat di muka bumi ini hidup di hutan Papua.

Maitar juga mengatakan puing-puing yang tersisa di konsesi loging tahun ini telah ditumpuk, siap untuk dibakar. Beberapa LSM lingkungan melaporkan 1.296 titik api muncul dalam konsesi minyak, penebangan dan pertambangan Indonesia sepanjang Agustus lalu.

Sampai bulan Agustus, minyak sawit dari Korindo dibeli oleh beberapa pedagang minyak sawit terbesar di dunia – Wilmar, Musim Mas, ADM, dan IOI. Mereka menyediakan minyak sawit untuk konsumen di Eropa, Amerika Utara, Cina dan India, menurut laporan yang dirilis oleh Papua for Mighty.

“Karena kurangnya kemajuan dari pemasok, dan tuduhan serius, Wilmar telah menghentikan pengadaan minyak sawit dari Korindo dengan efek dari Juni 2016,” kata juru bicara Wilmar.

Musim Mas juga telah berhenti membeli dari Korindo tetapi mengatakan akan melanjutkan komunikasi dengan perusahaan tersebut.

“Kami percaya transformasi yang hanya dapat dicapai melalui keterlibatan positif dan hasilnya berdampak nyata di lapangan,” ujar juru bicara perusahaan asal Singapura ini. (*)

Freeport Dicurigai Menambang Emas Di Bawah TN Lorentz

Jayapura, Jubi – Pemerintah Provinsi Papua mencurigai adanya kegiatan penambangan emas bawah tanah di Taman Nasional Lorentz oleh PT Freeport Indonesia.

Sekretaris Daerah Provinsi Papua Hery Dosinaen di Jayapura, Rabu (31/8/2016), mengatakan, pasalnya bisa saja ada penambangan di bawah tanah di kawasan Ilaga, Jila, Hoya, Ermakawiya, dan Bela karena bagian atasnya merupakan Taman Lorentz dan mungkin saja sudah ada terowongan yang tembus sehingga negara harus melihat hal itu.

“Jika tidak, pertambangan akan menggerogoti terus alam Papua dari bawah tanah, meski hutan di atasnya dilindungi,” katanya.

Dia mengemukakan tentang keadaan politik ekonomi internasional sekarang ini, di mana pemerintah daerah di Papua secara tak langsung mendapat tekanan dari negara donor, dalam konteks menjaga kelestarian Taman Lorentz.

“Sehingga pada akhirnya, sekitar 10 kabupaten yang berada di taman nasional tersebut, tak dapat melaksanakan pembangunan secara maksimal,” ujarnya.

Sebagai salah satu contoh, katanya, Kabupaten Asmat merupakan wilayah yang berada di atas air dan tak bisa membangun ibu kota kabupatennya karena dikelilingi Taman Nasional Lorentz.

“Ini harus kami sampaikan sehingga diharapkan ada regulasi yang bisa memayungi supaya pemerintah daerah kabupaten yang berada di wilayah Taman Lorentz dapat melaksanakan pembangunan dengan baik tanpa berbenturan dengan proses hukum,” katanya.

Dia mengatakan sejak 1980, pembangunan jalan Trans Irian Jaya dari Sorong ke Merauke yang dikerjakan Kementerian PU, banyak melewati taman nasional tersebut sehingga menjadi kendala dalam proses pembangunan. (*)

Teologi Berbicara tentang Hubungan Total Antar Pribadi semua Pihak

Kita baru saja bahas tentang Allah, Manusia, Dosa, Yesus, dan Roh Kudus.Kita tidak bicara tentang Iblis dalam kaitan perannya dalam merusak hubungan antara manusia dengan Allah yang telah putus, dan berakibat Allah menyediakan keselamatan lewat Yesus Kristus, dan Roh Kudus dikirim untuk menyadarkan dan membawa manusia kepada Jalan Keselamatan yang disediakan Allah karena perbuatan apapun yang baik, yang dilakukan manusia yang berdosa tidak akan pernah menormalisasi hubngan yang telah putus.

Dalam hubungan ini ada pihak yang disalahkan, yaitu Iblis sebagai sumber dari dosa dimaksud, yang mempengaruhi Adam untuk memakan buah terlarang, yang berakibat pemutusan atau kerusakan hubungan manusia dengan Allah.

Dengan kata lain, ketika manusia percaya kepada apa yang dikatakan Iblis dan tunduk kepada godaannya, maka secara otomatis hubungan dengan Alalh menjadi putus. Dikatakan Iblis berhasil dalam hal ini. Untuk mengalahkannya, maka Pribadi Kedua Allah telah datang dan mati di Kayu Salib, di bukit Golgota. Adam meninggalkan Allah dan Yesus ditinggalkan Allah, atau hubungan menjadi putus karena dosa. Hubungan antara

  1. Manusia dengan Kristus
  2. Kristus dengan Allah
  3. Allah dengan Setan,
  4. Setan dengan manusia, dan
  5. Manusia dengan semua ciptaan

yaitu hubungan antara “created soul” dan “the creator”, yaitu pribadi Roh telah putus. Maka hubungan-hubungan ini perlu dipetakan, dibenahi dan dinormalisasi.

Adalah tugas teologia untuk membuat peta yang jelas tentang ke-lima hubungan ini: bagaimana kelima hubungan ini seharusnya beroperasi dan berfungsi? Kalau ada yang putus perlu disambungkan, kalau ada yang tidak normal maka perlu dinormalisasi. Teologi membantu manusia membuat peta hubungan. Teologi bukan hanya ilmu tentang Tuhan, atau ilmu ke-Ilahi-an, tetapi ialah pengetahuan tentang kelima hubngan dimaksud. Memahami dan memetakan dengan baik kelima hubungan ini, maka kita dapat mengaku sebagai orang yang paham teologia.

 

Dosa Menurut Hukum Ilahi ialah Hubungan Yang Putus

Mencuri itu dosa, berdusta itu dosa, berzinah itu dosa, korupsi itu dosa luarbiasa, terorisme itu kejahatan luarbiasa, genosida itu kejatahan atas kemanusiaan. Demikian kita selalu proklamirkan dalam membahas hukum dan etika dalam hubungan pribadi lepas pribadi, kelompok dengan kelompok, dan dalam hubungan antar umat manusia semesta.

“Dosa” dalam konsep berpikir ini sama dengan perbuatan salah, perbuatan melanggar hukum. Hampir-hampir perbuatan melanggar hukum dan dosa sulit dibedakan pertama-tama karena titik-tolak cap kita tentang “dosa” ialah “perbuatan”, atau tindakan manusia. Ada norma-norma yang telah diterima dan diatur oleh hukum, atau kebiasaan, sehingga kalau ada perbuatan aneh, atau tidak sesuai dengan itu, maka kita menganggapnya sebagai pelanggaran, dan selanjutnya dalam kacamata “agama” kita cenderung menganggapnya “dosa”.

Pertama kita harus membedakan dengan tegas dan jelas, bahwa “dosa” bukanlah perbuatan. Dosa bukan berarti melanggar Hukum Ilahi,

Dosa yang sesungguhnya bukanlah petbuatan, walaupun memang perbuatann mengandung banyak dosa. Dosa ialah “hilangnya hubugnan dengan Allah”. Terputusnya hubungan antara makhluk duniawi dengan makhluk ilahi ialah dosa.

Dalam konsepsi teologia Kristen misalnya, menyebutkan bahwa dosa ialah rusaknya hubungan dengan Allah, putusnya hubungan inter-personal manusia dengan Allah.

Dosa merusak relasi antara manusia dengan Allah, antara manusia dengan manusia, dan antara Allah dengan manusia.

Ada dua kasus dalam dua peristiwa yang dengan jelas-jelas mengajarkan doktrin hukum dosa menurut ajaran Kristen, yaitu peristiwa di Taman Firdaus, ketika Allah jalan-jalan di Taman Eden setelah manusia memakan buah terlarang yang ada di tengah-tengah Taman Allah itu dan peristiwa kedua pada saat Yesus disaliblan di Golgota. Dalam kasus pertama, setelah Adam memakan buah terlarang, maka ia bersembunyi begitu mendengar langkah Allah  berjalan-jalan di dalam Taman itu.

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu haru sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadpa TUHAN Allah di antara pepohonan dalam taman. (Kitab Suci Agama Kristen, Kejadian 3:8)

Dan kita tahu apa tanggapan Allah terhadap perbuatan melanggar Hukum Ilahi yang dilakukan oleh Adam? Allah tidak mengajukan pertanyaan terkait “perbuatan” memakan buah terlarang dimaksud. Tetapi Allah malahan mengajukan pertanyaan “Di makakah engkah?”

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia tiu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkah?” (Kitab Suci Agama Kristen, Kejadian 3:9)

Pertanyaan ini bukan menyangkut perbuatan Adam, tetapi menyangkut akibat daripada perbuatannya, yaitu sebuah hubungan yang rusak. Manusia yang tadinya membawa diri menghadap dan bercakap dengan Allah, bubungan yang mesra telah rusak.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka keturunan daripada manusia yang telah berbuat dosa ialah manusia berdosa. Pertama, Adam berdosa karena perbuatan melanggar perintah Allah. Dan karena hubungan yang rusak maka manusia telah berdosa. Karena manusia telah berdosa, maka ia selalu berbuat dosa, tidak ada satupun yang baik di dalamnya.

Tidak ada satupun perbuatan baik yang dapat dihasilkan oleh manusia yang dilahirkan sebagai keturunan dari manusia yang berdosa. Oleh karena itulah, Yesuis dikirimkan ke dalam dunia sebagai Penebus Dosa, Juruselaman untuk mendamaikan hubungan Allah dengan manusia yang telah rusak, atau terputus itu.

Kasus kedua terjadi di bukit Golgota, di mana kali ini Yesus yang bertanya kepada Allah “mengapa Engkau meninggalkan aku?

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkah meninggalkan Aku?” (Kitab Suci Agama Kristen, Injil Matius 27:16)

Dalam kasus pertama, Allah yang bertanya kepada Adam tentang hubungan yang telah rusak/ putus. Sekarang Allah Anak yang bertanya kepada Allah Bapa karena hubungan antara keduanya yang telah putus, Allah meninggalkan Yesuys  karena di Bukit Golgota itulah Yesus sedang menanggung dosa-dosa manusia yang ditimpakan kepada Yesus, yaitu dosa-dosa dari para keturunan Adam yang telah rusak hubungannya dengan Allah di Taman Eden.

Pertanyaan “di mana” muncul dalam dua kasus ini, dan keduanya terkait dengan “hubungan” yang telah putus oleh sebab dosa. Logikanya, dalam kehidupan manusia hari ini, setelah Adam maka bukan dosa yang menyebabkan hubungan putus, tetapi hubungan putus yang melahirkan dosa. Oleh karena itulah Yesus datang untuk menyambung hubungan yang putus itu lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. Puncak pengorbanan-Nya ialah “Allah berpaling dari pada-Nya” atau “hubngan keduanya menjadi putus”.

Karena relasi Bapa dan Anak putus, maka ada pertanyaan Anak, “Di manakah Engkah?” Karena hubungan Bapa dan Anak putus, maka Allah bertanya kepada Adam, “Di manakah engkau?”

Kita telah lihat hubngan dosa, Allah dan Adam, serta hubungan dosa, Yesus dan Allah. Sekarang kita lihat hubungan manusia, dosa, Allah, Yesus dan Roh Kudus, dalam tema “dosa ialah hubungan yang terputus” ini.

Roh Kudus yang pernah dijanjikan oleh Allah lewat para nabi dalam Perjanjian Lama kemudian dijanjikan langsung oleh Yesus dan akhirnya setelah Yesus mati dan bangkit dari antara orang mati, mengalahkan maut, Ia naik ke Surga dan sebelum kenaikannya, Ia menjanjikan dua hal, yaitu pertama, bahwa Ia akan mengirimkan Roh Kudus, dan kedua, bahwa Ia sendiri akan datang kembali menyambut umat-Nya yang percaya kepada-Nya.

Janji pertama telah digenapi, yaitu Roh Kudus telah dikirimkan ke dalam dunia, secara resmi kepada Gereja mula-mula di Yerusalem.

Tugas utama Roh Kudus ialah “menyadarkan manusia tentang dosa”, yaitu tentang hubungan yang telah putus oleh karena pelanggaran Adam, dan buahnya maut, dan tentang keselamatan yang telah disediakan oleh Yesus. Dengan kata lain, tugas utama dan pertama Roh Kudus ialah menunjukkan mausia tentang hubungan yang telah putus antara manusia dengan Allah, yaitu menyadarkan manusia akan dosa dan akan pengampunan yang disediakan oleh Allah.

Ada dosa oleh Adam, ada hukuman oleh Allah, ada penebusan dosa oleh Yesus Kristus, dan Roh Kudus dikirim untuk mencerahkan manusia akan hubungan-hubungan yang telah rusak ini, tentang jalan yang sudah disediakan Allah untuk me-normalisasi hubungan yang rusak. Sekali lagi, putus hubungan dengan Allah ialah Dosa, dan penebusan dosa ialah menghubungkan kembali hubungan yang telah putus. Dan untuk itu Roh Kudus dikirim sebagai Pribadi Allah yang menyadarkan manusia tentan dosa, dan tentang keselamatan yang disediakan Allah lewat Yesus.

Pribadi Allah yang Pertama dan hubungannya dengan manusia telah rusak, oleh karena itu Ia mengaruniakan Pribadi Allah yang Kedua, Anak-Nya yang tunggal itu, supaya manusia diselamatkan dari dosa, dan untuk memberi kesadaran kepada manusia tentang dosa dan tentang keselamatan yang disediakan Allah Pribadi Pertama, maka dikirimkan-lah Allah Pribadi Ketiga, Roh Kudus.

Roh Kusud datang untuk menormalisasi hubungan yang telah putus setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Roh Kudus menyadarkan manusia tentang “posisi manusia” dalam hubungannya dengan Allah.. Di manakah engkau Adam di Taman Eden? Di manakah Engkah ya Bapa? di Golgota, dan di manakah Engkah hai manusia, di dalam hati kita masing-masing, setelah Roh Kudus dikirim ke dunia.

Roh Kudus datang tidak tanya tentang kau makan apa, kau minum apa, kau bilang apa. Akan tetapi Dia bertanya, “Di manakah engkah?” dalam hubungan dengan Allah. Dia berurusan dengan dosa ialah tidak percaya Yesus Kristus. Kita mengerti dosa dari hubungan, bukan dari kelakuan.

Hukum sebab akibat, normalisasi hubungan menghasilkan perbuatan yang baik, perbuatan yang baik menunjukkan hubungan yang sudah normal.

Kita perlu pertanyaan konseptual ini: “Saya berbuat dosa maka saya disebut orang berdosa? Ataukah saya berdosa maka saya berbuat dosa?”

Setelah Adam makan buah terlarang, maka hubungan terputus, Dengan rusaknya hubungan maka Adam menjadi berdosa. Semua keturunan Adam yang dilahirkannya dalam dosa, maka semuanya berdosa. Karena dilahirkan dalam dosa maka kita semua orang berdosa. Karena kita semua orang berdosa maka kita berbuat dosa.

Karena saya berbuat dosa, maka saya disebut orang berbuat dosa: Itu adam. Karena kita dilahirkan di dalam dosa, maka kita berbuat dosa: itu kita, keturunan Adam. (Pdt. Dr. Stephen Tong)

Roh Kudus datang untuk menyadarkan kita bahwa kita telah melanggar hukum Allah, merusak hubungan kita dengan Allah. Anda merusak perjanjian. Anda berdosa terhadap Yesus Kristus. Manusia disebut berdosa karena melawan Tuhan.

Roh Kudus menyadarkan manusia tentang dosa, dan membawa kita kepada Salib Kristus untuk menormalisasi hubungan kita edngan Allah.

Kita percaya kepada finalitas, Yesus sebagai satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Menolak finalitas dan pusat absolute Yesus Kristus dalam hubungan manusia dengan Allah, dalam hubungan Pencipta dengan Ciptaan, maka itulah dosa terbesar, dan sekaligus dosa yang tidak bisa diampuni.

 

Penyu Hijau Kembali Ke Laut

Petugas BBKSDA membawa Penyu Hijau ke Dermaga Polair Polda Papua untuk dikembalikan kehabitatnya, Sabtu (3/9).
Petugas BBKSDA membawa Penyu Hijau ke Dermaga Polair Polda Papua untuk dikembalikan kehabitatnya, Sabtu (3/9).

JAYAPURA [PAPOS] -Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Jayapura serta Satuan Polisi Perairan Polres Jayapura Kota, Sabtu (3/9) melepaskan seorang Penyu Hijau ke laut lepas.
Penyu yang memiliki nama latin Chelonia Mydas ini merupakan hasil temuan petugas BSDKP Jayapura di Pasar Pelelangan Ikan (TPI)Hamadi. Diduga Penyu ini hasil tangkapan nelayan yang hendak dijual di pasar tersebut.

Kepala Seksi Perencanaan dan Pengawetan BBKSDA, Lenny saat ditemui di Dermaga Polair Polda Papua menyebutkan, pelepasan satwa dilindungi ke habitat, bukan kali pertama yang dilakukannya.

“Penyu ini tertangkap oleh nelayan sejak Jumat (2/9) malam dan hendak dijual. Namun, petugas PSDKP dan Satpolair Polresta berhasil menggagalkan perdagangan Penyu Hijau ini,” kata Lenny, Sabtu (3/9).

Lenny mengaku telah membuat surat penyerahan dari Balai Konsevasi Satwa terkait temuan satwa dilindungi. “Kalau bisa ditahan, barang bukti akan ditahan, tetapi kondisi fisik satwa tidak memungkinkan ditahan. Maka itu solusi satu-satunya dilepas ke habitatnya,” ujarnya.

Pihaknya juga tidak akan segan-segan memproses hukum oknum nelayan yang dengan sengaja menangkap satwa dilindungi dan kemudian memperdagangkan di pasar.

“Kalau pelakunya tertangkap, kami akan proses, tetapi kalau tidak ada pelaku, satwa kami lepas ke hatitatnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penegakkan Hukum BKSDA wilayah Provinsi Papua, Patrik meminta kesadaran masyarakat untuk menjaga satwa tersebut. Ia pun mengakui Penyu Hijau kerap dikonsumsi oleh masyarakat di Jayapura.

“Satwa ini dilindungi oleh UU, karena jumlahnya yang berangsur sedikit dan hampir diambang kepunahan. Maka itu semua pihak bertanggungjawab atas kelangsungan hidup satwa ini,” imbuh Patrik. [ful]

Terakhir diperbarui pada Minggu, 04 September 2016 23:01